Anak-Anak dengan ADHD Harus Bergerak untuk Belajar

ADHD

Bhataramedia.com – Selama beberapa dekade, para orang tua dan guru telah banyak dibuat frustasi oleh anak yang memiliki ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anak-anak ini tidak dapat duduk diam dan berkonsentrasi.

Namun, penelitian baru yang dilakukan di UCF menunjukkan bahwa jika Anda ingin anak-anak ADHD untuk belajar, Anda harus membiarkan mereka menggeliat. Ketukan kaki, kaki yang selalu berayun dan gerakan menggeser kursi dari anak-anak dengan ADHD, sebenarnya penting untuk bagaimana mereka mengingat informasi dan bekerja di luar tugas-tugas kognitif yang kompleks. Hal ini berdasarkan suatu penelitian yang diterbitkan secara online di Journal of Abnormal Child Psychology.

Temuan ini  menunjukkan bahwa metode lama yang berlaku untuk membantu anak-anak dengan ADHD kemungkinan salah.

“Intervensi yang dilakukan sebelumnya biasa ditargetkan untuk mengurangi hiperaktivitas. Hal ini kebalikan dari apa yang harus kita lakukan untuk sebagian besar anak-anak dengan ADHD,” kata salah satu penulis studi tersebut, Mark Rapport, kepala Children’s Learning Clinic at the University of Central Florida

“Hal tersebut bukan berarti untuk membiarkan mereka berjalan di sekitar ruangan, tetapi Anda harus dapat memfasilitasi gerakan mereka sehingga mereka dapat mempertahankan tingkat kewaspadaan yang diperlukan untuk kegiatan kognitif,” lanjut dia, seperti dilansir University of Central Florida (17/04/2015).

Penelitian ini memiliki implikasi besar untuk bagaimana orang tua dan guru harus berurusan dengan anak-anak ADHD, terutama dengan meningkatnya beban yang diberikan kepada kinerja siswa pada tes standar. Studi ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa dengan ADHD dapat tampil lebih baik pada pekerjaan kelas, tes dan pekerjaan rumah jika mereka duduk di bola untuk aktivitas atau sepeda olahraga, misalnya.

Studi di klinik UCF tersebut, melibatkan 52 anak laki-laki usia 8 sampai 12 tahun. Dua puluh sembilan dari anak-anak telah didiagnosis dengan ADHD dan 23 tidak memiliki gangguan klinis dan menunjukkan perkembangan normal.

Setiap anak diminta untuk melakukan serangkaian tugas standar yang dirancang untuk mengukur sistem “kerja memori,” sistem yang diguanakan untuk menyimpan sementara dan mengelola informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas kognitif yang kompleks seperti belajar, penalaran dan pemahaman.

Anak-anak ditunjukkan dengan serangkaian angka yang diacak dan huruf yang melintas pada layar komputer, kemudian diminta untuk menempatkan nomor sesuai urutan, diikuti oleh huruf tersebut. Sebuah kamera berkecepatan tinggi merekam anak-anak tersebut dan pengamat mencatat setiap gerakan, serta mengukur perhatian mereka untuk tugas tersebut.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rapport, sudah menunjukkan bahwa gerakan berlebihan yang merupakan ciri-ciri anak hiperaktif (yang sebelumnya dianggap selalu ada), sebenarnya hanya terlihat ketika mereka perlu menggunakan fungsi eksekutif otak, terutama memori kerja mereka.

Studi baru ini memperdalam studi selanjutnya dan membuktikan gerakan-gerakan tersebut memiliki tujuan.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa ketika mereka sedang banyak bergerak, sebagian dari mereka mengerjakan tugas lebih baik. Mereka harus bergerak untuk menjaga kewaspadaan,” kata Rapport.

Sebaliknya, anak-anak di dalam studi yang tidak memiliki ADHD juga lebih banyak bergerak selama tes kognitif, tetapi memiliki efek sebaliknya, mereka mengerjakan tugas lebih buruk.

Referensi :

Dustin E. Sarver, Mark D. Rapport, Michael J. Kofler, Joseph S. Raiker, Lauren M. Friedman. Hyperactivity in Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD): Impairing Deficit or Compensatory Behavior? Journal of Abnormal Child Psychology, 2015; DOI: 10.1007/s10802-015-0011-1

You May Also Like