Bakteri “Baik” Di Vagina Lindungi Wanita dari Infeksi HIV

HIV
HIV
Gambar HIV-1 (biru) menggunakan Scanning electron micrograph. (Credit: C. Goldsmith)

Bhataramedia.com – Para peneliti di University of Texas Medical Branch, Galveston beranggapan bahwa ada metode yang lebih baik untuk mengidentifikasi bakteri “baik” yang melindungi wanita dari infeksi HIV dan infeksi menular seksual lainnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan sel-sel kulit vagina di luar tubuh dan mempelajari cara mereka berinteraksi dengan bakteri “baik dan buruk”.

Kesehatan vagina manusia tergantung pada simbiosis / hubungan yang saling menguntungkan antara vagina dengan bakteri “baik” yang hidup di permukaannya, dimana bakteri tersebut hidup dari produk yang dihasilkan oleh sel-sel kulit vagina. Pada gilirannya, bakteri baik ini akan menciptakan pelindung fisik dan kimia bagi vagina terhadap bakteri jahat dan virus, termasuk HIV.

Publikasi dari tim ilmuwan yang mewakili berbagai disiplin ilmu di UTMB dan Oak Crest Institute of Science di Pasadena, California, melaporkan metode baru untuk mempelajari hubungan antara sel-sel kulit dan bakteri “baik”.

Seperti dilansir laman University of Texas Medical Branch at Galveston (27/3/2014), penelitian ini merupakan yang pertama kalinya menumbuhkan sel-sel kulit vagina manusia secara ex vivo (di luar tubuh). Sel-sel kulit vagina ditumbuhkan sedemikian rupa agar menciptakan permukaan yang mendukung pertumbuhan kolonisasi kompleks dari bakteri baik dan jahat yang diambil dari uji ginekologi rutin. Sebelumnya, komunitas bakteri belum pernah berhasil tumbuh di luar tubuh manusia.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh Richard Pyles dari UTMB, telah menerbitkan penelitan mereka di jurnal PlosOne. Mereka menemukan bahwa komunitas bakteri tertentu dapat mengubah cara HIV menginfeksi dan bereplikasi. Model laboratorium di UTMB akan memungkinkan evaluasi yang cermat dan terkontrol terhadap komunitas bakteri yang kompleks, sehingga akhirnya dapat mengidentifikasi spesies bakteri yang memiliki kemampua untuk melemahkan pertahanan vagina terhadap HIV. Pyles juga menunjukkan bahwa model ini akan memberikan kesempatan untuk mempelajari cara komunitas bakteri ini mengubah aktivitas produk kesehatan yang berhubungan dengan vagina, seperti douche (pembersih saluran vagina), obat perawatan vagina dan alat kontrasepsi. Jenis penelitian ini sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan pada wanita yang berpartisipasi di dalam uji klinis. “

Bahkan, tim peneliti telah mendokumentasikan potensi sistem komunitas bakteri tersebut agar evaluasi terhadap obat antimikroba yang ada saat ini dan di masa depan dapat dilakukan dengan lebih baik. Hal ini terkait dengan bagaimana interaksi antara obat-obatan tersebut dengan bakteri “baik dan jahat”. Pada studi yang mereka lakukan saat ini, komunitas bakteri yang berkaitan dengan kondisi simtomatik (pada saat seseorang melakukan pengobatan untuk untuk meringankan gejala suatu penyakit) disebut bacterial vaginosis. Bakteri ini secara substansial dapat mengurangi aktivitas antivirus dari salah satu obat anti-HIV terkemuka.

Sebaliknya, permukaan vagina yang dihuni oleh bakteri baik dan dirawat dengan antivirus, mengalami penurunan HIV secara signifikan, dibandingkan dengan permukaan vagina tanpa bakteri baik yang diobati dengan antivirus yang sama. Dr. Marc Baum, ilmuwan yang memimpin di Oak Crest dan rekan penulis dari penelitian ini, menyatakan “Model penelitian pada studi ini unik, karena menciptakan kembali lingkungan vagina secara ex vivo, baik dari segi fisiologi seluler host (vagina) dan mikrobioma kompleks pada vagina, dimana sebelumnya mikrobioma tersebut tidak bisa dikultur. Saya percaya hal ini akan menjadi nilai yang sangat besar pada studi di bidang infeksi menular seksual. “

Referensi Jurnal :

Richard B. Pyles, Kathleen L. Vincent, Marc M. Baum, Barry Elsom, Aaron L. Miller, Carrie Maxwell, Tonyia D. Eaves-Pyles, Guangyu Li, Vsevolod L. Popov, Rebecca J. Nusbaum, Monique R. Ferguson. Cultivated Vaginal Microbiomes Alter HIV-1 Infection and Antiretroviral Efficacy in Colonized Epithelial Multilayer Cultures. PLoS ONE, 2014; 9 (3): e93419 DOI: 10.1371/journal.pone.0093419.

You May Also Like