Pembangunan Hotel dan Mall Rugikan Masyarakat Yogyakarta

seminar, hotel, mall

Bhataramedia.com – UGM menggelar acara diskusi publik yang bertema “Yogya Sould Out” pada Rabu (22/04). Acara diskusi yang bertempat di lingkungan kampus FISIPOL UGM ini membahas mengenai pembangunan Hotel dan Mall di berbagai titik di Kota Yogyakarta yang dinilai menimbulkan dampak negatif yang tidak hanya bagi masyarakat, namun berdampak negatif pula bagi lingkungan. Seperti yang diungkapkan oleh Dadok Putera Bangsa seorang aktivis gerakan Jogja Asat berikut ini. “Kami jadi korban dari pembangunan Fave Hotel, sejak beroperasi 2012 silam sumur warga jadi kering. Padahal sejak saya hidup disini dari kecil sumur tidak pernah kering meski musim kemarau,” tutur Dadok seperti dilansir oleh website resmi UGM (22/02/2015).

Tentu saja Dedok dan warga disekitar lingkungannya melayangkan protes kepada pihak hotel. Namun sayangnya pihak hotel memberikan tanggapan yang tidak jelas dan mengecewakan. Tak ingin menyerah, Dedok dan warga lainnya mendatangi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengeluhkan permasalahan ini, sekali lagi hanya kekecewaan yang diperolehnya. “Ironisnya pemerintah kota melalui BLH malah berargumen membenarkan operasional hotel karena  dinilai sudah tepat mengambil sumber air dalam yang tidak akan mengganggu sumber air dangkal masyarakat. Sementara jelas-jelas sumur warga terdampak menjadi kering,” kata Dedok kecewa.

Sementara itu, RM. Aji Kusumo seorang aktivis lingkungan menyatakan pendapatnya bahwa pembangunan hotel dan mall hanya memberikan keuntungan kepada pihak-pihak tertentu saja bukan kepada masyarakat. “Pembangunan hotel dan mall dengan modal investor tidak menguntungkan warga karena keuntungan hanya masuk ke kantong mereka sendiri,” tegas Aji.

Francis Wahono, Direktur Center for Integrated Development and Rural Studies melihat dari sudut pandang lain mengenai permasalahan pembangunan hotel dan mall yang kian menjamur di Kota Yogyakarta. Menurut Francis, permasalahan ini menyebabkan citra istimewa dari Kota Yogyakarta semakin luntur. Oleh karena itu, Francis menyarankan agar geo-ekologis khas Kota Yogyakarta tetap dipegang teguh sebagai acuan dalam pembangunan Kota Yogyakarta. “Hanya dengan itu “Jogja Sold Out” tidak terjadi,” jelas Francis.

You May Also Like