Memecahkan Misteri Virus Zika

Rendering artistik struktur virus Zika.(Credit: Dr Guntur Fibriansah / Duke-NUS Medical School)
Rendering artistik struktur virus Zika.(Credit: Dr Guntur Fibriansah / Duke-NUS Medical School)

Bhataramedia.com – Suatu erobosan penting untuk memahami struktur virus Zika dan perilakunya telah disorot dalam studi oleh ilmuwan d Duke-NUS Medical School (Duke-NUS).

Dipublikasikan secara online pada 19 April 2016 di jurnal Nature, temuan mereka mengungkapkan struktur virus Zika dan mengidentifikasi lokasi potensial pada virus untuk ditargetkan dengan terapi. Pengetahuan ini akan membantu upaya di seluruh dunia untuk melawan virus yang masih kurang tersebut, karena merupakan prioritas kesehatan masyarakat dan penelitian saat ini.

Associate Professor, Shee-Mei Lok, dan timnya dari Duke-NUS mencitrakan virus Zika di bawah mikroskop ‘cryo-elektron’ dari sejumlah besar partikel virus yang telah dimurnikan. Dengan menggunakan ribuan gambar, mereka merekonstruksi struktur mikroskopik resolusi tinggi dari virus Zika.

Struktur resolusi tinggi virus Zika menunjukkan bahwa arsitektur virus secara keseluruhan mirip dengan flaviviruses lainnya, seperti virus dengue dan west nile. Namun, tim menemukan bahwa virus Zika lebih stabil secara termal dibanding virus dengue, bahkan secara struktural stabil ketika diinkubasi pada suhu 40 derajat Celcius, yang merupakan suhu tubuh pasien pada saat demam tinggi setelah infeksi virus.

Struktur tersebut juga mengungkapkan bahwa permukaan protein virus Zikamemiliki interaksi lebih rapat dibandingkan dengan virus dengue, sehingga membuatnya lebih stabil daripada virus dengue. Hal ini mungkin menjelaskan kemampuannya untuk bertahan hidup pada kondisi yang keras seperti pada sperma, air liur dan urine. Selain transmisi melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, stabilitas struktur virus membuatnya lebih tangguh, yang kemungkinan menjelaskan kemampuan khususnya untuk ditransmisikan melalui kontak seksual. Virus serupa, seperti demam berdarah dan West Nile, tidak menyebar melalui kontak seksual.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa antibodi atau obat yang mengganggu stabilitas struktur virus Zika dapat membantu untuk mengurangi keparahan penyakit atau membatasi penyebaran virus.

“Ini menarik, karena struktur kami akan memberikan petunjuk penting untuk peneliti lain di seluruh dunia yang bekerja untuk menemukan agen terapi terhadap virus Zika,” kata Assoc Prof. Lok dari Emerging Infectious Diseases Programme di Duke-NUS.

“Selain itu, kami telah menunjukkan bahwa virus Zika berisi struktur yang unik dari virus dalam keluarga yang sama yang mempengaruhi otak, seperti virus West Nile, dan juga yang menyebabkan demam pada manusia, seperti virus dengue. Struktur ini dapat dimutasi untuk lebih memahami bagaimana caranya mempengaruhi infeksi virus Zika pada manusia dan juga dapat berpotensi mengarah pada pengembangan vaksin yang aman, yang memiliki pengurangan efek samping,” lanjut Assoc Prof. Lok, seperti dilansir Duke-NUS Medical School (19/04/2016).

Langkah selanjutnya yang dilakukan Assoc Prof. Lok adalah untuk memahami efek dari antibodi ampuh pada virus Zika. Dengan memeriksa struktur yang disajikan pada penelitian ini, timnya akan bekerja untuk menentukan bagaimana antibodi dapat digunakan untuk membunuh virus. Mereka juga berharap untuk mengidentifikasi antibodi kuat yang dapat digunakan untuk mengobati orang dalam situasi darurat, seperti wabah yang muncul tiba-tiba atau pada kasus infeksi selama kehamilan.

Penulis pada penelitian ini termasuk Dr. Victor Kostyuchenko, Elisa Lim dan Dr. Shuijun Zhang dari Duke-NUS.

Virus Zika, terutama ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi. Hal ini menyebabkan penyakit virus Zika menunjukkan gejala-gejala seperti demam ringan, ruam kulit, konjungtivitis, nyeri otot dan sendi, malaise atau sakit kepala pada orang yang terinfeksi.

Pada bulan Februari 2016, virus Zika dinyatakan oleh World Health Organization (WHO) menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Ini adalah hasil dari wabah di seluruh dunia akibat virus zika, yang dimulai pada tahun 2013 dan telah dikaitkan dengan gangguan neurologis seperti microcephaly pada janin dan sindrom Guillian-Barré pada orang dewasa.

Referensi Jurnal :

Victor A. Kostyuchenko, Elisa X. Y. Lim, Shuijun Zhang, Guntur Fibriansah, Thiam-Seng Ng, Justin S. G. Ooi, Jian Shi, Shee-Mei Lok. Structure of the thermally stable Zika virus. Nature, 2016; DOI: 10.1038/nature17994.

You May Also Like