Pemetaan Jaringan Transmisi HIV Kurangi Tingkat Infeksi

Jaringan transmisi HIV yang tereka di San Diego Primary Infection Cohort (SDPIC). (tidak termasuk individu yang tidak mempunyai hubungan)

Bhataramedia.com – Para peneliti di University of California, San Diego School of Medicine telah berhasil memetakan jaringan transmisi human immunodeficiency virus (HIV). Pemetaan infeksi HIV yang menggunakan sekuensing genetika ini, telah memungkinkan peneliti untuk memprediksi model kemungkinan transmisi HIV baru dan mengidentifikasi orang yang berisiko terbesar menularkan virus tersebut.

Temuan ini dipublikasikan secara online tanggal 5 Juni di jurnal PLoS ONE.
“Semakin kita memahami struktur dan dinamika jaringan transmisi HIV, semakin baik kita dapat mengidentifikasi ‘hot spot’ transmisi,” kata Susan Little, MD, profesor kedokteran di UC San Diego Antiviral Research Center dan penulis utama studi ini.

“Tidak semua orang yang terinfeksi HIV memiliki kemungkinan yang sama untuk menularkan infeksi kepada orang lain. Ada kelompok tertentu yang memiliki penularan penyakit lebih aktif. Kami dapat menggunakan informasi ini untuk menargetkan intervensi pengobatan kepada mereka yang paling mungkin untuk menularkan virus kepada orang lain dan mengurangi jumlah infeksi baru,” tambah Susan.

Para peneliti menganalisis urutan data DNA HIV-1 dari HIV-1 yang baru saja menginfeksi seseorang melalui kontak seksual dan sosial mereka di San Diego, antara tahun 1996 hingga 2011. Urutan data yang dikumpulkan sebagai bagian dari pengujian genetik HIV yang rutin digunakan untuk menentukan apakah virus HIV resisten terhadapa kelas obat HIV tertentu. Kesamaan genetik antara urutan DNA virus yang menginfeksi orang yang berbeda dibandingkan. Virus dari dua orang dengan tingkat kesamaan genetik yang tinggi diduga merupakan link dari transmisi.

Di dalam jaringan transmisi HIV yang diamati, peneliti menghitung skor jaringan transmisi (TNS) untuk memperkirakan risiko penularan HIV dari individu yang baru didiagnosis dengan pasangan baru. Peserta dengan TNS tinggi lebih mungkin untuk mengembangkan hubungan transmisi dengan orang lain di dalam tahun pertama infeksi HIV mereka dibandingkan dengan peserta yang memiliki TNS rendah.

“Fokus pencegahan dan sumber daya pengobatan untuk populasi yang paling berisiko terhadap penularan, secara dramatis dapat mengurangi jumlah infeksi baru yang terkait dengan populasi ini. Pengobatan TNS terpadu dan intervensi pencegahan secara jelas dapat mengurangi tingkat infeksi HIV baru di dalam komunitas,” jelas Susan, seperti dilansir dari rilis berita University of California (5/6/2014).

Referensi Jurnal :

Susan J. Little, Sergei L. Kosakovsky Pond, Christy M. Anderson, Jason A. Young, Joel O. Wertheim, Sanjay R. Mehta, Susanne May, Davey M. Smith. Using HIV Networks to Inform Real Time Prevention Interventions. PLoS ONE, 2014; 9 (6): e98443 DOI: 10.1371/journal.pone.0098443.

You May Also Like